The role of low dose nicotine on the profile of
blood glucose, insulin and pancreatic β-cell
of obese cynomolgus monkey
(Macaca fascicularis)
Chusnul Choliq1, Dondin Sajuthi1,2,
Irma H Suparto2,3, Dewi Apri Astuti2,4, Retno Wulansari1
1 Departemen Klinik, Reproduksi dan Patologi
Fakultas Kedokteran Hewan IPB
2 Pusat Studi Satwa Primata Lembaga Penelitian
Kepada Masyarakat IPB
3 Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam IPB
4 Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan
Fakultas Peternakan IPB
ABSTRAK
Penelitian tentang peranan nikotin dosis rendah terhadap
profil glukosa darah, insulin dan sel- β
pankreas pada monyet ekor panjang (MEP) obes belum pernah dilaporkan. Tujuan
penelitian ini untuk mengetahui adanya respon perubahan kadar gula darah,
insulin dan sel-β pankreas. 14 ekor MEP dewasa (umur 6-8 tahun) jantan
dikategorikan berdasarkan indeks masa tubuh (IMT) ke dalam preobes
(IMT=23,65-25) dan obes (IMT>=26.00) telah digunakan. Hewan dikelompokkan
menjadi 4 grup, yaitu 5 ekor preobes dengan nikotin (pOb+), 5 ekor obes dengan
nikotin (Ob+), 2 ekor preobes tanpa nikotin (pOb-) dan 2 ekor obes tanpa
nikotin (Ob-). Grup nikotin diberikan diet tinggi energi yang dicampur nikotin
cair dosis 0,5-0,75 mg/kgbb/hari dan grup lainnya diberikan diet komersial monkey chow sebagai kontrol. Sampel darah diambil setiap bulan dari vena
femoralis untuk dianalisis terhadap gula darah dan pada akhir penelitian hewan
dinekropsi dan diambil organ pankreasnya. Sampel organ difiksasi dan diwarnai
dengan pewarnaan imunohistokimia untuk mengetahui adanya sel-sel endokrin
imunoreaktif terhadap insulin. Hasil
penelitian menunjukkan adanya penurunan glukosa darah yang nyata pada grup
nikotin (P<0,05) dibandingkan dengan grup tanpa nikotin selama waktu
penelitian. Distribusi pulau Langerhans diantara semua grup tidak ditemukan
perbedaan yang nyata antara grup nikotin
maupun tanpa nikotin (P>0.05). Berdasarkan afinitas warna sitoplasma
sel-β terhadap adanya
granula insulin grup tanpa insulin memberikan warna yang lebih gelap tanpa
diikuti penambahan jumlah sel-β dibandingkan grup insulin. Kesimpulan
penelitian menunjukkan nikotin oral dosis rendah berperan positif menurunkan
kadar gula darah dengan stimulasi sel-β dan memelihara produksi insulin
pankreas.
Kata kunci: nikotin, monyet ekor opanjang, hewan model, obesitas, sel-β
ABSTRACT
Study on the
role of low dose nicotine intervention and its effect on blood glucose and
pancreatic islet of obese cynomolgus monkeys has never been reported. The aims of the study were to evaluate the role
of low dose nicotine on the profile of blood glucose, insulin level and β-cell of pancreatic
islets.
Fourteen adult (aged 6 – 8 years) males cynomolgus monkeys grouped based
on their Body Mass Index (BMI) into preobese (BMI=23.65 – 25.00)
and obese (BMI ≥ 26.00) were used. Animals were grouped into four groups subsequently
preobese with nicotine (pOb+), obese with nicotine (Ob+), preobese without
nicotine (pOb-) and obese without nicotine (Ob-). Nicotine groups fed with high
fat diet mixed with nicotine dose 0.5 – 0.75mg/kg body weight/day for three
months and others without nicotine fed monkey chow as control. Blood samples
were collected every month for glucose and insulin analysis and at
the end of study pancreas were
collected after
necropsy. Pancreas tissues were processed histologically and stained with immunohistochemistry against insulin serum to determine the immunoreactive endocrine
cells. The results showed that
blood glucose significantly
decreased (P<0,05) in the nicotine group based on treatment duration compared
to control group. Based on color intensity of granules cytoplasm of insulin
producing cells or immunoreactive β-cells indicate that in non nicotine group were
more reactive than those with nicotine group. As a conclusion, there was positive
effect of low dose nicotine in maintaining the blood glucose level in normal
range by stimulation of islet cells proliferation to maintain the production of
insulin in
the pancreatic islet.
Keywords:
nicotine, cynomolgus monkey, obesity, β-cells
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Nikotin merupakan alkaloid toksik yang diekstrak dari daun kering
tanaman tembakau (Nicotiana tobacum) (Karlsson dan Ahrén 1998) merupakan
senyawa amin yang terdiri dari cincin piridin dan pirolidin. Jutaan
orang di seluruh dunia terpapar melalui rokok dan juga melalui
inhalasi insektisida. Nikotin dapat melalui barier darah
otak (blood brain barrier) dan
diedarkan keseluruh bagian otak sehingga dapat mengakibatkan ketergantungan
yang cukup lama dan berdampak buruk pada perokok pasif (Warongan et al. 2010).
Konsumsi nikotin menyebabkan berbagai pengaruh negatif seperti gangguan
kardiovaskular, saraf dan fungsi
endokrin melalui efek pada sistem saraf pusat dan perifer (Benowitz 1988). Disamping itu tergantung dosis yang dikonsumsi nikotin
juga meningkatkan kadar plasma dari adreno corticotropic hormone (ACTH),
epinephrine dankortisol (Morgan et al. 2004). Menurut
Yoshikawa et al.
(2005) konsumsi nikotin efektif melepaskan
asetilkolin dari vesikel sinaptik dalam otak tikus. Pengikatan nikotin pada reseptor nicotinik presinaptik dari
terminal saraf kolinergik berpengaruh terhadap meningkatnya pelepasan
asetilkolin. Dampak pemberian nikotin pada reseptor nikotin asetilkolin (nAch) di sel-β pankreas, akan meningkatkan segregasi dan
rekonstruksi inositol fosfolipid dan
karena itu meningkatkan sensitivitas
kalsium dalam sel (Hamaguchi et al. 2003).
Efek perifer dari nikotin asetilkolin merangsang reseptor di parasimpatis
dan sympatho-adrenal sistem saraf (Arendash et al. 1995), Hal ini juga
mempengaruhi hati melalui sekresi epinefrin yang menyebabkan
peningkatan pelepasan glukosa
dari hati ke aliran darah (Benowitz 1986), dan adanya asetilkolin agonis akan
meningkatkan pelepasan epinefrin dan norepinefrin dari medula adrenal dan terjadinya
pelepasan insulin dari pankreas (Iguchi 1986; Benowitz 1986). Studi terakhir menurut Hossein (2011)
menunjukkan adanya efek positif nikotin pada kadar serum insulin tikus Winstar,
sehingga penting dipelajari pengaruhnya pada manusia yang mengalami
hipoinsulinisme. Berdasarkan studi epidemiologi
diprediksi jumlah pasien
penderita diabetes di dunia akan meningkat mencapai 300
juta pada 2025 (Zimmet et al. 2001). Berdasarkan data tahun 2006, diperkirakan 2,1%
penduduk di dunia menderita diabetes dan sekitar 60% berada di Asia. Penderita
diabetes ini seringkali dikaitkan dengan kejadian obesitas. Menurut data World
Health Organization (WHO) tahun 2005, dilaporkan terdapat 1,6 miliar orang
dewasa (berumur lebih dari 15 tahun) menderita overweight dan sedikitnya 400 juta diantaranya tergolong obes. Proyeksi
tahun 2015, diperkirakan
terdapat 2,3 miliar orang dewasa yang memiliki berat badan berlebih dan
sebanyak 700 juta diantaranya tergolong obes. Saat ini banyak
masyarakat di negara berkembang, seperti Indonesia mengalami masalah obesitas
dan diabetes.
Kejadian obesitas dan diabetes terus
meningkat setiap tahun karena adanya perubahan pola makan yang mengandung
tinggi karbohidrat, lemak, protein, dan penurunan aktivitas fisik dalam bentuk
kerja dan mobilitas. Perubahan pola makan tersebut dalam jangka waktu lama
disertai penurunan aktivitas fisik akan menimbulkan risiko terjadinya sindroma
metabolik yang mengakibatkan obesitas. Efek yang ditimbulkan akibat obesitas
dapat berhubungan dengan penurunan kualitas hidup dan sebagai faktor pemicu
terjadinya berbagai penyakit, antara lain kardiovaskuler, diabetes melitus, dan
hipertensi. Obesitas dan diabetes dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti
genetik, gaya hidup, lingkungan,
psikologis, sosial dan budaya (Racette et
al. 2003). Menurut penelitian Pribadi (2008), senyawa nikotin dapat
digunakan sebagai obat alternatif untuk mengatasi sindroma metabolik yang
disebabkan oleh konsumsi makanan tinggi karbohidrat, protein, dan lemak.
Nikotin akan mempunyai efek positif bagi kesehatan apabila digunakan dalam
dosis yang tepat dan aman dan menurut Warongan (2010) nikotin memiliki margin of savety atau batas pemakaian
yang luas dan dapat menimbulkan toksisitas bila mencapai 60 mg/kg bobot badan.
Oleh karena itu melalui penelitian ini
diharapkan dapat diketahui pengaruh pemberian nikotin dosis rendah (0,5-0,75
mg/kg bobot badan) terhadap profil glukosa darah, kadar insulin darah dan
gambaran sel-sel penghasil hormon
insulin (sel-β)
yang imunoreaktif pada pulau Langerhans pankreas monyet ekor panjang (MEP)
sebagai hewan model yang mengalami obesitas. MEP dimanfaatkan sebagai hewan
percobaan karena memiliki banyak kemiripan dengan manusia dari segi anatomis
dan fisiologis (Roth et al. 2004).
Tujuan Penelitian
Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui peran pemberian nikotin dosis rendah secara oral
terhadap kadar glukosa darah, insulin dan sel-β organ pankreas pada MEP dengan obesitas.
Hipotesis
Penelitian
Pemberian
nikotin dosis rendah secara oral pada hewan model obes akan memperbaiki
metabolisme glukosa dengan memperbaiki sel-β pankreas.
METODE
PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian bersama
yang dibagi dalam dua tahap. Tahap pertama
adalah pembentukan hewan laboratorium menjadi obes dengan pemberian pakan
tinggi energi selama 12 bulan (Februari 2008 – Januari 2009). Tahap prekondisi
sebelum perlakuan dilakukan selama satu bulan selama bulan Februari 2009. Tahap
kedua, adalah perlakuan pemberian nikotin yang dilakukan selama tiga bulan (Maret
– Juni 2009). Penelitian dilakukan di fasilitas hewan laboratorium
satwa primata PT. IndoAnilab Taman Kencana Bogor, sedangkan analisis kimia darah dan histomorfologi dilakukan
di Laboratorium Patologi Pusat Studi Satwa Primata dan Laboratorium
Riset Anatomi Fakultas Kedokteran Hewan – Institut Pertanian Bogor.
Materi
Penelitian
Penelitian ini menggunakan 14 ekor monyet ekor panjang
(M. fascicularis) jantan umur 6 – 8 tahun
dengan berat badan awal antara 4 – 6 kg. Seluruh hewan percobaan dikelompokkan
menurut
indeks massa tubuh (IMT), yaitu preobes (IMT=23,65 – 25,00) dan obes (IMT≥ 26,00). Kelompok hewan yang
memperoleh nikotin dosis rendah (0,50-0,75
mg/kg bb) selama tiga bulan,
dikelompokan menjadi preobes (pOb+) dan obes (Ob+) masing-masing 5 ekor yang dikandangkan secara
individu, serta memperoleh pakan lemak tinggi (4200 kalori). Hewan kontrol preobes tanpa nikotin
(pObes-) dan obes tanpa nikotin (Ob-) masing-masing 2 ekor
diperoleh dari penangkaran dan mengalami obesitas secara alami dengan pakan
bersumber dari monkey chow. Seluruh
prosedur perlakuan yang melibatkan hewan model percobaan dilakukan berdasarkan
peraturan yang telah ditetapkan oleh Animal
Care and Use Committee (ACUC) yang merupakan Komisi Kesejahteraan dan
Penggunaan Hewan Percobaan dari PT IndoAnilab dengan nomor protokol:
04–IA–ACUC–09, sedangkan untuk hewan kontrol mengikuti prosedur standar ACUC
dalam penangkaran.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan rancangan acak
lengkap (RAL) pola tersarang dengan waktu sebagai faktor dengan pengulangan dan
Uji-t. Kelompok hewan yang memperoleh
nikotin, diambil data baseline dan
setiap bulannya selama tiga bulan terhadap peubah gula darah. Sebelum pengambilan darah, hewan dianestesi gengan
Ketamin HCl dosis 10 mg/kg berat badan (bb) yang diinjeksikan intramuskular. Sampel
darah diambil
melalui pembuluh darah vena femoralis sebanyak 3 ml pada tabung venoject tanpa
antikoagulan disentrifus, kemudian dianalisis kadar glukosa darah dan insulin. Kadar
glukosa darah dianalisis dengan metode oksidasi enzimatik (glukosa oksidase)
menggunakan kit glukosa nomor katalog 112191, sedangkan kadar insulin darah
dianalisis dengan metode electrochemiluminescence
immunoassay “ECLIA” menggunakan Elecsys Cobas immunoassay analyzer.
Pada akhir penelitian hewan dinekropsi untuk
pengambilan sampel jaringan. Hewan dianestesi dengan Ketamin
HCl dosis 10 mg/kg bb yang diinjeksikan intramuskular, selanjutnya
dieutanasi dengan
Pentobarbital® dosis 30 mg/kg bb secara intravena. Organ
pankreas disampling
untuk melihat perubahan gambaran histomorfologi akibat
perlakuan nikotin
tersebut. Sampel organ pankreas dicuci dengan NaCl
fisiologis,
selanjutnya difiksasi dalam larutan paraformaldehid 4% selama tiga
hari dan
disimpan dalam alkohol 70% sebagai stopping
point sampai proses selanjutnya.
Sampel jaringan dengan
ukuran sekitar 1 x 0,5 cm diproses
menurut standar histologi dan jaringan
didehidrasi dengan cara direndam dalam alkohol konsentrasi bertingkat mulai
dari 70% sampai dengan 100%. Jaringan tersebut
dijernihkan dalam silol dan ditanam (embedding)
dalam parafin sehingga menjadi blok parafin. Blok parafin disayat menggunakan
mikrotom dengan ketebalan 4-5 μm, lalu dilekatkan pada
gelas obyek yang sudah dilapisi (coating)
dengan gelatin dan diinkubasikan semalam dalam inkubator.
Sediaan kemudian diwarnai secara
imunohistokimia (IHK)
menggunakan antibodi terhadap insulin (1:1 500) dengan
metode avidin-biotin-peroxidase
complex (ABC) menurut Hsu et al. (1981). Pewarnaan IHK menggunakan
kit Starr Trek Universal HRP Detection
System Biocare Medical. Pengamatan
dilakukan terhadap gambaran sel-sel penghasil hormon
insulin (sel-β) yang
imunoreaktif pada pulau Langerhans pankreas.
Hasil dari pewarnaan IHK dianalisis secara deskriptif
dan kuantitatif. Pengamatan pada organ pankreas dilakukan untuk mengamati
distribusi pulau Langerhans, penghitungan luas area positif insulin dan
penghitungan jumlah sel-β.
Banyaknya pulau Langerhans setiap lapangan pandang didapatkan dengan menghitung
jumlahnya menggunakan asumsi perhitungan besaran pulau Langerhans dengan ukuran
kecil (jumlah sel kurang dari 25 sel), sedang (jumlah sel antara 25 sampai 50
sel) dan besar (jumlah selnya lebih besar dari 50 sel) dan dihitung jumlahnya.
Penghitungan sel-β pada pulau Langerhans
menggunakan software Adobe Photoshop CS4
dilakukan pada pulau Langerhans berukuran sedang karena jumlahnya paling
banyak. Jumlah sel-β yang imunoreaktif dihitung dengan kriteria
adanya butir-butir berwarna coklat pada sitoplasma, baik ditemukan inti maupun
tidak. Penghitungan luas area positif insulin dilakukan dengan menghitung persentase
intensitas warna yang ditimbulkan oleh reaksi antigen-antibodi dari insulin
pada pulau Langerhans menggunakan software
MBF_ImageJ. Hasil pengamatan pada pankreas selanjutnya
dipotret dengan mikroskop cahaya yang dilengkapi dengan alat fotografi (Nikon
Eclipse E-600W).
HASIL DAN
PEMBAHASAN
Glukosa Darah
Berdasarkan hasil
analisis glukosa darah MEP sebelum dan selama pemberian nikotin menunjukkan
bahwa kedua kelompok monyet preobes dan obes memberikan gambaran seperti pada
Gambar 1.
............Gambar 1............pada lampiran 1.
Analisis ragam berdasarkan Gambar 1 menunjukkan
bahwa kadar glukosa darah berbeda nyata dipengaruhi oleh waktu pemberian
nikotin pada perlakuan (P<0,05). Kelompok hewan preobes mengalami penurunan kadar
glukosa darah yang bermakna sesudah pemberian nikotin mulai bulan ke-0 sampai
bulan ke-3, yaitu sebesar 20,2 mg/dl (28,37%) dari 71,20 mg/dl menjadi 51,00
mg/dl. Demikian pula, kadar glukosa pada
kelompok obes sesudah pemberian nikotin pada bulan ke-0 sampai bulan ke-3,
yaitu sebesar 17,60 mg/dl (33,72%) dari 52,20 mg/dl menjadi 34,60 mg/dl. Sebagai pembanding, kadar glukosa darah pada
kelompok kontrol preobes dan obes tanpa nikotin masing-masing 58,60 mg/dl dan
52,80 mg/dl. Meskipun terjadi penurunan kadar glukosa darah pada masing-masing
kelompok perlakuan dengan nikotin, akan tetapi kadar glukosa darah secara
rerata masih dalam kisaran normal pada MEP menurut Fortman et al. (2002),yaitu 48-69 mg/dl.
Gambar 1 memperlihatkan adanya penurunan dan
kadar glukosa pada kelompok preobes dan obes. Walaupun jumlah rerata
masing-masing kelompok berbeda pada bulan ke-0 (awal perlakuan), namun masih
dalam kisaran normal. Hal ini disebabkan oleh status
masing-masing kelompok berbeda berdasarkan indeks massa tubuhnya. Pada bulan ke-1, terlihat respon yang serupa
terhadap perlakuan pemberian nikotin yang ditunjukkan dengan penurunan kadar masing-masing
glukosa. Penurunan yang nyata (P<0,05) terjadi pada bulan ke-3 akhir
penelitian.
Berdasarkan hasil penelitian Zakariah (2010),
perilaku makan dan minum, perilaku merawat diri (self grooming) dan lokomosi selama
pemberian nikotin lebih aktif dibandingkan sebelum pemberian nikotin baik pada
kelompok preobes (IMT <26) maupun obes (IMT >26). Penurunan asupan makan
dan tingginya keluaran energi dapat mengakibatkan peningkatan tingkat
agresifitas. Hal ini dikaitkan dengan pengaruh nikotin terhadap sistem syaraf
pusat yang dikenal sebagai psikoaktif dan bersifat adiktif, karena nikotin
bekerja melalui reseptor asetilkolin (nAChR) dan mediasi transmisi sinaptik
cepat (Narahashi et al. 2000).
Berdasarkan
pengamatan area positif insulin pada sel-b pulau Langerhans, pada
sitoplasmanya dapat diamati granul-granul berwarna coklat dengan intensitas
yang lemah sampai kuat. Intensitas yang kuat memberikan warna yang gelap pada
sel-b, mengindikasikan produksi insulin
yang lebih tinggi dibandingkan dengan sel-b yang berwarna terang. Intensitas warna dalam
sitoplasma sel-β ini dapat diukur dengan perangkat lunak (software) Mac Biophotonic
ImageJ yang dapat mengkonversi warna
gelap pada hasil sediaan IHK dengan warna standar dari program. Dengan prosedur
operasi yang diterapkan pada perangkat lunak ini, area yang memberikan hasil
positif pada pewarnaan dapat dihitung dengan membandingkan luas pulau
Langerhans dengan bagian sitoplasma sel-β yang berwarna kecoklatan.
Area positif insulin pada kelompok pOb(+) dan Ob(+)
memberikan persentase yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok pOb(-) dan
Ob(-) (Gambar 2B). Dengan uji-t, hewan yang memperoleh nikotin dan tidak
memperoleh nikotin, baik yang obes maupun pre-obes menunjukkan perbedaan yang
nyata (P<0,05) terhadap persentase rerata luas area positif. Masing-masing persentase luas area antara
kelompok pOb(+) dan pOb(-), yaitu 45,47 % dan 39,87%, sedangkan antara kelompok
Ob(+) dan Ob(-), yaitu 50,95% dan 33,63%.
Luas area positif merupakan representasi dari luas
warna granula sitoplasma sel-β dibandingkan luas pulau Langerhans dengan
membandingkan warna ambang yang telah diatur dalam program software yang digunakan.
Jumlah Sel-β pankreas
Perhitungan sel-β pankreas pada pewarnaan IHK dilakukan
pada sel yang imunoreaktif yang ditandai dengan adanya butir-butir kecoklatan pada
sitoplasmanya yang mengandung insulin dengan afinitas sedang sampai tinggi
(Gambar 2 dan 3). Afinitas yang tinggi ditandai dengan intensitas warna yang
lebih gelap. Berdasarkan penghitungan jumlah sel-β pada pulau Langerhans dengan
program Adobe Photoshop CS4,
didapatkan bahwa jumlah sel β pada kelompok pOb(+) dan Ob(+) menunjukkan jumlah
yang berbeda nyata secara statistik (P<0,05) dibandingkan kelompok pOb(-)
maupun Ob(-) (Gambar 2C). Kelompok
dengan intervensi nikotin memiliki jumlah sel lebih banyak dibandingkan kontrol. Berdasarkan hasil
perhitungan jumlah sel-β, tampak adanya pengaruh yang nyata akibat pemberian
nikotin terhadap peningkatan jumlah sel-β pada masing masing kelompok.
Malferteiner dalam Chowdhury dan Udupa (2006), menyatakan bahwa nikotin
diduga dapat berperan sebagai faktor yang menginduksi terjadinya inflamasi dan
kanker pada pankreas, namun mekanisme yang tepat belum diketahui pasti.
Penelitian tentang pemaparan nikotin terhadap sel-sel asiner pankreas
terstimulasi telah dilaporkan pada tikus (Chowdhury et al. 1989; Chowdhury et al.
1990). Keberadaan nikotin yang berperan sebagai mitogen dalam menstimulasi
proliferasi sel asiner pankreas telah diketahui, sehingga diduga kemungkinan
adanya mekanisme yang serupa dapat terjadi pada sel-β dalam pulau
Langerhans.
Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa
intervensi nikotin memberikan pengaruh terjadinya proliferasi sel-β, sehingga
memberikan gambaran terjaganya keseimbangan kadar glukosa darah selama
penelitian yang berada dalam kisaran normal.
Kadar insulin
darah
Hasil analisis terhadap insulin pada
bulan terakhir penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna
(P<0.05) antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol (Gambar 2D). Hewan pada kelompok pOb(+) dan Ob(+)
menunjukkan kadar rerata insulin masing-masing 12,34 μIU/ml dan 13,41 μIU/ml yang lebih rendah dibandingkan
dengan kelompok pOb(-) dan Ob(-), yaitu 37,04 μIU/ml dan 112,9 μIU/ml. Menurut Wagner et al. (2006), nilai insulin yang
melebihi normal hanya terdapat pada hewan obes tanpa intervensi nikotin yang
menunjukkan kondisi hiperinsulinemia.
..................Gambar 3
.............pada lampiran 3..
Hasil pengamatan IHK pada
kelompok preobes maupun obes alamiah tanpa pemberian nikotin memberikan
intensitas warna yang lebih gelap (afinitas yang tinggi) dibandingkan kelompok
preobes dan obes dengan nikotin (Gambar 3).
Intensitas warna yang lebih gelap pada sel-β diduga merepresentasikan
meningkatnya produksi insulin oleh sel-β untuk mengantisipasi banyaknya glukosa
darah yang beredar dalam tubuh selama proses metabolisme. Pada kelompok obes tanpa nikotin intensitas
warna yang kuat ternyata tidak disertai dengan peningkatan jumlah sel-β rerata
per satuan luas pulau Langerhans. Sebaliknya pada kelompok obes dengan nikotin,
memberikan gambaran intensitas warna yang lebih lemah tetapi disertai dengan
kepadatan jumlah sel-β yang lebih tinggi.
Adanya jumlah sel-β yang tinggi dalam pulau Langerhans dengan intensitas
warna yang lebih lemah diduga menggambarkan adanya kompensasi untuk mencapai
produksi insulin yang cukup untuk menjaga kadar glukosa darah pada kelompok
preobes dan obes dengan nikotin. Sebaliknya pada kelompok preobes dan obes
alamiah tanpa nikotin, produksi insulin yang tinggi pada masing-masing sel-β
kemungkinan merupakan usaha tubuh untuk mengatasi kebutuhan insulin yang mirip
dengan keadaan hipersekresi insulin. Hal ini
sejalan dengan penelitian Harishankar et
al. (2011) yang dilakukan pada tikus mutan WNIN/Ob kurus dan obes yang
menggambarkan terjadinya hiperplasia sel-β dan densitas pada pulau Langerhans
yang lebih tinggi pada tikus obes alamiah. Demikian pula secara imunohistokimia
area positif insulin pada pulau Langerhans lebih tinggi pada tikus obes dan
gambaran pulau Langerhans yang lebih besar dan tidak beraturan, sedangkan pada
yang kurus bentuk pulaunya teratur dan normal.
Hipersekresi insulin bila berjalan kronis
akan mengakibatkan hiperinsulinemia yaitu suatu kondisi gangguan endokrin yang
ditandai dengan adanya kelebihan insulin dalam sirkulasi darah yang menyebabkan
malfungsi sistem kontrol glukosa darah.
Hipersinsulineamia seringkali disebabkan oleh resistensi insulin, yaitu
suatu kondisi tubuh yang resisten terhadap efek insulin sehingga pankreas
mengkompensasi dengan memproduksi insulin lebih banyak. Pankreas yang tidak
lagi dapat memproduksi insulin secara cukup menyebabkan pengaturan glukosa
darah akan terganggu dan biasanya dijumpai pada kejadian obesitas dengan
indikasi mengarah pada diabetes melitus tipe 2 (Collazo-Clavell 2011).
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
1.
Pemberian nikotin dosis rendah (0,50 – 0,75
mg/kgbb) selama tiga bulan pada monyet ekor panjang obes menyebabkan penurunan
kadar glukosa darah perifer.
2.
Pemberian nikotin dosis rendah pada model monyet
ekor panjang obes dapat mempertahankan jumlah sel-β, mengoreksi nilai insulin
dan menghambat terjadinya hiperglikemia.
- Kepadatan jumlah
sel-β akibat pemberian nikotin menyebabkan produksi insulin oleh
masing-masing sel-β cukup
untuk mempertahankan kadar glukosa darah dalam kisaran normal
Saran
Perlu dilakukan
penelitian lanjutan dengan mengeksplorasi gambaran sel-sel endokrin penghasil
glukagon dan sel-sel eksokrin yang menghasilkan enzim-enzim yang dipengaruhi
akibat intervensi nikotin oral dosis rendah dengan waktu yang lebih lama. Selain itu perlu dikaji pengaruhnya secara
molekuler mekanisme yang mendasari peran nikotin terhadap sel endokrin lain
untuk mendapatkan dosis yang tepat dan waktu henti optimum untuk memperoleh
manfaat positif lain dari nikotin.
UCAPAN TERIMA
KASIH
Ucapan terima kasih disampaikan kepada PT. IndoAnilab Bogor,
PT.Wanara Satwa Loka, PT Bimana, Pusat Studi Satwa Primata (PSSP) LPPM IPB,
Laboratorium Riset Anatomi DepartemenAFF FKH-IPB, Tim peneliti hewan model
obesitas dan semua pihak yang telah membantu.
DAFTAR PUSTAKA
Arendash GW,
Sanberg PR, Sengstock GJ. 1995. Nicotine enhances the learning and memory of
aged rats. Pharmacol Biochem Behav
52: 517-523.
Benowitz NL.
1986. Clinical pharmacology of nicotine. Annu Rev Med 37: 21-32.
Benowitz NL.1988.
Drug therapy. Pharmacologic aspects of cigarette smoking and nicotine
addiction. N Engl J Med
319: 1318-1330.
Bouwens L,
Rooman I (2005). Regulation of pancreatic beta-cell mass. Physiol Rev 85: 1255-1270.
Chatkin
R, Chatkin JM. 2007. Smoking and changes in body weight: can physiopathology
and genetics explain this association. J
Bras Pneumonal 33(6):712-719.
Chiolero
A, Faeh D, Paccaud F, Cornuz J. 2008. Consecquences of smoking for body weight,
body fat distribution, and insulin resistance. Am J Clin Nutr 87:801-809.
Chowdhury
P, Hosotani R, Chang L, Rayford PL. 1989. Inhibition of CCK or carbachol
stimulted amylase release by nicotine. Life
Sci 45:2163-2168.
Chowdhury
P, Hosotani R, Chang L, Rayford PL. 1990. Metabolic and pathologic effects of
nicotine on gastrointestinal tractand pancreas of rats. Pancreas 5:222-229.
Chowdhury
P, Udupa KB. 2006. Nicotine as mitogenic stimulus for pancreatic acinar cell
proliferation. World J Gastroenterol
12(46):7428-7432.
Fortman
DJ, Hewett TA, Bennet BT. 2002. The
Laboratory Nonhuman Primate. Florida: CRCPr.
Hamaguchi K,
Utsunomiya N, Takaki R, Yoshimatsu H, Sakata T. 2003. Cellular interaction
between mouse pancreatic alpha-cell and beta-cell lines: possible
contact-dependent inhibition of insulin secretion. Exp Biol Med 228: 1227-1233.
Harishankar
N, Kumar PU, Sesikeran B, Giridharan N. 2011. Obesity Associated
patophysiological & histologcal changes in WNIN obese mutant rats. Indian J Med Res 134: 330-340.
Hossein A. 2011. The effect of
nicotine on the serum level of insulin in adult male Wistar rats. J Cell
Anim Biol 5(10):215-218
Hsu, SM,
Raine, L and Fanger, H. 1981. The use of
avidin-biotin peroxidase complex (ABC) in immunoperoxidase techniques: a
comparison between ABC and unlabelled antibody (PAP) procedures. J
Histochem Cytochem 29:
577-580.
Iguchi A, Gotoh M, Matsunaga H, Yatomi A,
Honmura A, Yanase M, Sakamoto N. 1986. Mechanism of central hyperglycemic
effect of cholinergic agonists in fasted rats. Am J Physiol 251: 1-7.
Karlsson S,
Ahrén B. 1998. Insulin and glucagon secretion by ganglionic nicotinic
activation in adrenalectomized mice. Eur J Pharmacol 342: 291-295.
Morgan TM,
Crawford L, Stoller A, Toth D, Yeo KT, Baron JA. 2004. Acute effects of
nicotine on serum glucose insulin growth hormone and cortisol in healthy
smokers. Metabolism 53: 578-582.
Narahashi
T, Fenster CP, Quick MW, Lester RAJ,
Marszalec W, Aistrup GL, Sattelle DB, Martin
BR, Levin ED. 2000. Symposium overview: mechanism of action of nicotine on
neuronal acetylcholine receptors, from molecule to behavior. Toxicol Sci 57:192-202.
Pribadi AG. 2008. Mencit dan Tikus sebagai Hewan Model Penelitian Nikotin. [Skripsi].
Bogor: Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Racette SB, Deusinger SS, Deusinger RH. 2003.
Obesity : overview of prevalence, ethiology, and treatment. Phys Ther 83 : 276-288.
Richards MP, Ashwell CN, McMurty JP.
2000. Quantitative analysis of leptin mRNA using comparative reverse transcriptase PCR and capillary
electrophoresis with laser-induced fluorescence detection. Electrophoresis 21: 792-298.
Roth
GS, Mattison JA, Ottinger MA, Chachich ME, Lane MA, Ingram DK. 2004. Aging in
rhesus monkeys: relevance to human health intervention. Science 305:1423-1426.
Susan Z,
Janoski MD, Jack A. 2002. Drug therapy in obesity. Engl J Med 346:8.
Wagner
JD, Carlson CS, O’Brien TD. 1996. Diabetes mellitus in nonhuman primates:
recent research advances on curent husbandry practice. J Med Primatol 19:609-625.
Yoshikawa H,
Hellström-Lindahl E, Grill V. 2005. Evidence for functional nicotinic receptors
on pancreatic beta cells. Metabolism
54: 247-254.
Zakariah
LOMS. 2010. Analisis
Hematologi, Nilai Kecernaan dan Tingkah Laku Monyet Ekor Panjang (Macaca
fascicularis) Jantan Obes yang Diintervensi Nikotin. [Thesis] Sekolah
Pascasarjana IPB. Bogor
Zimmet P,
Alberti KG, Shaw J. 2001. Global and societal implications of the diabetes
epidemic. 414: 782-787.
Warongan AW, Jusuf
I, Sajuthi D, Sulistiawati E, Mansjoer S S, Oktarina R. 2010. Intervensi nikotin
terhadap level low density lipoprotein dan ekspresi UCP-1 (uncoupling protein-1) pada monyet ekor panjang obes dengan resiko
aterogenik. J Primatol Indo 7(1):
11-15