Saturday, July 14, 2012

PERAN CANABINOID (CB1) PADA PENYANDANG OBES DENGAN STRES (Cannabinoid Roles at Obese With Stress Disorder) Anwar Wardy W *


Abstract:
‘Stress’’ is one of the most frequently use from a phenomenon that has quite different meanings at different times and under different circumstances for different individuals. Stress is a function of three main interactive and often interdependent variables: (i) excitability/arousal; (ii) perceived aversiveness; and (iii) uncontrollability. Human studies have typically addressed the interaction of stress and overeating by examining the hypothalamic-pituitary-adrenal axis. In controlled laboratory studies, stress is induced with either physiological or environmental manipulations, and hormonal measurements and/or eating behavior are measured. .  Particularly related with the exclusion of patients from trials with mild depression or even a slight increase in depressive levels it is unclear whether CB1 receptor antagonists will be suitable for obese patients with coexisting depression. When treating obesity with a CB1 receptor blocker, disruption of the normal processing in the limbic system should be anticipated resulting in adverse psychiatric disorders including depressed mood and anxiety. Hill and Gorzalka (2006) indicate that pharmacological blockade of CB1 receptors can induce a state similar to melancholic depression. The active compound in herbal cannabis, 9-tetrahydrocannabinol, exerts all of its known central effects through the CB1 cannabinoid receptor. Research on cannabinoid mechanisms has been facilitated by the availability of selective antagonists acting at CB1 receptors and the generation of CB1 receptor knockout mice. Main important classes of neurons that express high levels of CB1 receptors are GABAergic interneurons in hippocampus, amygdala and cerebral cortex, which also contain the neuropeptides cholecystokinin. Activation of CB1 receptors leads to inhibition of the release of amino acid and monoamine neurotransmitters. The lipid derivatives anandamide and 2-arachidonylglycerol act as endogenous ligands for CB1 receptors (endocannabinoids). They may act as retrograde synaptic mediators of the phenomena of depolarization-induced suppression of inhibition or excitation in hippocampus and cerebellum. Central effects of cannabinoids include disruption of psychomotor behaviour, short-term memory impairment, intoxication, stimulation of appetite, antinociceptive actions (particularly against pain of neuropathic origin) and anti-emetic effects. 
Keyword: Hemp,  cannabinoid, obese, brain-stress

Abstrak:
    'Stres''adalah salah satu yang paling sering digunakan dari fenomena yang memiliki arti yang berbeda pada waktu  berbeda dan dalam keadaan yang berbeda untuk individu yang berbeda. Stres merupakan fungsi dari tiga variabel yang saling berinteraksi terutama dan seringkali: (i) oleh rangsangan / gairah, (ii) ketidaksukaan yang dirasakan, dan (iii) keadaan tidak terkontrol.  Pada studi klinik yang dilakukan pada kelompok stres dan tindakan makan berlebihan dengan memeriksa aksis hipotalamus-hipofisis-adrenal.  Penelitian laboratorium terkontrol, pada stres diinduksi dengan memanipulasi keadaan fisiologis atau lingkungan, dan pengukuran hormonal atau perilaku makan yang diukur. Khususnya terkait dengan pengecualian pasien dengan depresi ringan atau bahkan dengan peningkatan tingkat depresi, tidak jelas apakah antagonis reseptor CB1 akan cocok untuk pasien obesitas yang juga mengalami depresi. Ketika mengobati gangguan obesitas dengan blocker reseptor CB1, pengolahan normal pada sistem limbik harus diantisipasi karena dapat mengakibatkan gangguan kejiwaan yang merugikan termasuk perasaan depresi dan kecemasan. Hill dan Gorzalka (2006) menunjukkan bahwa blokade farmakologi reseptor CB1 dapat menyebabkan keadaan yang mirip dengan depresi melankolis.
Sesuai dengan nama, maka tanaman Hemp (ganja) banyak difokuskan pada adanya kandungan senyawa kimia yang disebut dengan cannabinoid. Senyawa cannabinoid merupakan kelompok dari senyawa terpenofenolik yang secara struktur berhubungan dengan THC (tetrahydrocannabinol) yang mengikat reseptor cannabinoid. Definisi kimia senyawa ini lebih luas dibagi menjadi dua tipe yaitu kelas canabinoid klasik (THC) dan kelas cannabinoid non klasik (endocanabinoid : aminoalkilindoles dan eicosannoid)
Bahan aktif dikenal sebagai ‘9-tetrahydrocannabinol’, yang memberikan semua efek pada pusat otak melalui reseptor CB1 cannabinoid.  Penelitian tentang mekanisme cannabinoid telah difasilitasi oleh ketersediaan antagonis selektif yang bekerja pada reseptor CB1 dan generasinya pada reseptor CB1 tikus. Terutama pada neuron yang mengekspresikan tingkat reseptor CB1 yang tinggi pada interneuron GABAergic hipokampus, amigdala dan korteks serebral, yang juga berisi neuropeptida-cholecystokinin. Aktivasi reseptor CB1 menyebabkan penghambatan pelepasan asam amino dan neurotransmitter monoamina. Turunan lipid anandamide dan aktivasi 2-arachidonylglycerol sebagai ligan endogen untuk reseptor CB1 (endocannabinoids). Mereka dapat bertindak sebagai mediator sinaptik retrograde dari fenomena depolarisasi akibat dari inhibisi atau eksitasi dalam efek hipokampus dan cerebellum. Efek cannabinoids pada CNS termasuk gangguan perilaku psikomotor, gangguan memori jangka pendek, mabuk, perangsangan nafsu makan, tindakan antinociceptive (terutama terhadap nyeri asal neuropatik) dan efek anti-emetik.

Kata kunci: Hemp, cannabinoid, obesitas, gangguan-stres.

PENDAHULUAN.
1.   STRES
       Stres pada dasarnya satu defenisi dengan lainnya terdapat inti persamaannya. Selye (1976) mendefinisikan stres sebagai ‘the nonspesific response of the body to any demand‘, sedangkan Lazarus (1976) mendefinisikan ‘stress occurs where there are demands on the person which tax or exceed his adjustive resources’ (Golberger, et al, 1982). Dari kedua defenisi diatas tampak bahwa stres lebih dianggap sebagai respon individu terhadap tuntutan yang dihadapinya. Tuntutan-tuntutan tersebut dapat dibedakan dalam dua bentuk, yaitu tuntutan internal yang timbul sebagai tuntutan fisiologis dan tuntutan eksternal yang muncul dalam bentuk fisik dan social. Hans Selye juga menambahkan bahwa tidak ada aspek tunggal dari stimulus lingkungan yang dapat mengakibatkan stres, tetapi semua itu tergabung dalam suatu susunan total yang mengancam keseimbangan (homeostatis) individu.
Konsep yang dikenal dengan Sindrom Adaptasi Umum (general adaptation syndrome) yang menjelaskan bila seseorang pertama kali mengalami kondisi yang mengancamnya, maka mekanisme pertahanan diri (defence mechanism) pada tubuh diaktifkan. Kelenjar-kelenjar tubuh memproduksi sejumlah adrenalin cortisone dan hormon-hormon lainnya serta mengkoordinasikan perubahan-perubahan pada sistem saraf pusat. Jika tuntutan-tuntutan berlangsung terus, mekanisme pertahanan diri berangsur-angsur akan melemah, sehingga organ tubuh tidak dapat beroperasi secara adekuat. Jika reaksi-reaksi tubuh kurang dapat berfungsi dengan baik, maka hal itu merupakan awal munculnya sindrom “gangguan adaptasi”. Gejala dan tanda tersebut muncul dalam bentuk maag, serangan jantung, tekanan darah tinggi, obes atau keluhan-keluhan psikosomatik lainnya.
Oleh karena itu 'stres''adalah salah satu yang paling sering digunakan dari berbagai fenomena yang memiliki arti yang berbeda pada waktu  berbeda dan dalam keadaan yang berbeda untuk individu yang berbeda. Stres merupakan fungsi dari tiga variabel yang saling berinteraksi terutama dan seringkali: (i) oleh rangsangan / gairah, (ii) ketidaksukaan yang dirasakan, dan (iii) keadaan tidak terkontrol. 











Gambar.1. HPA Sistem internal dan eksternal
        Stres, cemas, marah merupakan bagian kehidupan sehari-hari yang harus dihadapi oleh individu, stres dapat menyebabkan kecemasan yang menimbulkan perasaan menyenangkan dan terancam, kecemasan dapat menimbulkan kemarahan. Respon terhadap marah dapat diungkapkan melalui 3 cara  (verbal, menekan, dan menentang) yaitu ; pertama adalah konstruktif sedang cara yang lain adalah destruktif. Dengan melarikan diri atau menentang akan menimbulkan rasa bermusuhan dan bila dipakai terus menerus, maka kemarahan dapat diekspresikan pada diri sendiri atau lingkungadan tampak sebagai depresi dan psikomatik atau agresif dan amuk
Stres bisa juga suatu tekanan, atau kecemasan yaitu antisipasi yang memprihatinkan tidak menentu, sering merasakan bahaya yang tidak jelas.
Rasa takut; secara emosional terkait dengan upaya untuk mengatasi dengan dengan mengancam.
Serangan panik;  tiba-tiba menjadi kecemasan yang terkait dengan gejala-gejala fisiologis (misalnya, denyut jantung meningkat) dan perasaan akan timbul bencana (misalnya, takut mati) yang datang tiba-tiba dan tampak tak beralasan
Tingkat dan sifat kecemasan pada suatu titik yang didefinisikan dalam waktu, keadaan
dan kebiasaan seorang individu dari kecemasan bisa menyebabkan kecenderungan seseorang menjadi obes, dan kemudian menggunakan berbagai cara untuk mengatasinya.

2.   OBES.
       Beberapa studi klinik yang dilakukan pada sekelompok orang (dan animal research) yang stres dan perilaku dan cara makan berlebihan dengan memeriksa aksis hipotalamus-hipofisis-adrenal (HPA axis).  Penelitian laboratorium yang terkontrol pada stress ini diinduksi dengan memanipulasi keadaan fisiologis atau lingkungan, dengan melakukan pengukuran hormonal atau perilaku makan yang diukur. 

























Gambar 2. Biobehavioral pathways; diet dan stress
      
          Hasil riset ini beragam, setelah stres, baik respon makan dan berat badan sebagai variabel, meningkat atau menurun dibandingkan dengan kontrol. Serangkaian studi baru pada tikus yang menggunakan regangan fisik sebagai stressor dan diukur asupan kalori, efisiensi kalori, berat badan, lemak intra-abdominal, serta tingkat hormonal termasuk adrenokortikotropik (ACTH), insulin dan leptin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, meskipun berat-badan cenderung bervariasi setelah stres, deposit lemak perut dan konsumsi kenyamanan makanan (lemak dan minuman dengan pemanis sukrosa) secara proporsional dengan chow meningkat. Para peneliti menyarankan bahwa konsumsi makanan dan kenyamanan muncul untuk mengurangi respon hormon stress.  Periset lebih lanjut berspekulasi bahwa jenis respon yang sama mungkin terjadi pada manusia dan masyarakat umumnya.

Sebuah riset lain menyimpulkan respon kortisol adrenal ke hormon ACTH hipofisis-stimulating sering / biasa dilaporkan. Penelitian ini menunjukkan bahwa stres yang dihasilkan pada uji-laboratorium adanya peningkatan respon serum kortisol yang dapat berkorelasi positif dengan peningkatan konsumsi makanan manis dan tinggi lemak.
Selama episode stres, jumlah makanan yang signifikan dari kenyamanan dikonsumsi, digambarkan paling sering adalah kombinasi gula-lemak atau asin-lemak dan secara teratur, terus-menerus selama variabel waktu tertentu atau singkat, tergantung pada intensitas dan lamanya stressor dapat menyebabkan obesitas.. Banyak faktor lingkungan yang meningkatkan kecemasan dapat berkontribusi terhadap stres dan pola makan pada anak dan orang dewasa.  Meskipun peningkatan kejadian obesitas, pada stres masih tetap ada namun tekanan untuk menjadi kurus selalu menjadi bahan diskusi dan riset terus-menerus. Pencarian fakta dalam rangka untuk memutuskan siklus dan intervensi aktif tetap diperlukan dan apa intervensi yang efektif yang harus membantu memfokuskan ekspektasi masyarakat kita untuk tujuan individu yang realistis ditetapkan untuk mencapai berat badan yang sehat. Kecenderungan penulis melakukan dan menjelaskan pada tulisan bebas ini ketika perubahan perilaku yang sangat kecil namun diadopsi sebagai bahan riset kedepan; yaitu hemp, dalam bahasa Aceh tradisional adalah cacarici dan bahan aktif medicinal adalah cannabinoid, (endocanabinoid dalam otak) pada reseptor CB1 tertentu ditekankan, berperan meningkatkan kesehatan secara signifikan pada obes /dan atau stress.

3.   HEMP.
       Hemp (Ganja; Cannabis sativa L) tradisiona herbal; cacarici merupakan tumbuhan yang dengan ciri utamanya mengandung Cannabinoids, senyawa terpenfenolik yang bersifat memabukkan pada dosis tertentu, salah satu komponennya yang terkandung lebih banyak adalah tetra-hydro-cannabinol (THC). Beberapa senyawa cannabinoids lainnya yang juga dalam jumlah besar pada varietas tertentu adalah CBD (Cannabidiol) dan CBN (Cannabinol), selebihnya dalam jumlah sedikit. Jenis senyama CBD keberadaaanya, menunjang sifat toksik dari senyawa THC, sehingga dalam analisisnya memerlukan perhitungan rasio antara kedua senyawa tersebut. Semua senyawa Cannabinoids berikatan dengan reseptor pada protein CB1 dan CB2. keberadaaannya sangat penting dalam mengkaji efek-efek langsung pada makhluk hidup.
      Melalui penelusuran dan pengkajian sifat-sifat biokimia pada ganja, yang kemudian diseparasi dengan teknik ekstraksi, maka tanaman ganja mempunyai peluang besar untuk dimanfaatkan. Pemanfaatannya memerlukan beberapa pertimbangan melalui analisis optimasi proses dan optimasi efek pada subyek yang memanfaatkannya. Pemanfaatan dengan beberapa pertimbangan optimasi akan menghasilkan rekomendasi pemanfaatan yang bijaksana terhadap tanaman Ganja.
       Dalam penelitian, maka pemanfaatan ganja secara bijaksana dikaji melalui beberapa teknik proses menghilangkan sifat toksik kemudian, hasilnya dikaji untuk dimanfaatkan untuk beberapa kepentingan. Hipotesisnya adalah Pengurangan sifat toksik pada ganja dengan menggunakan proses yang optimal akan bermanfaat juga secara optimal untuk beberapa kepentingan. Pemanfaatan lanjut tersebut tergantung dari hasil analisis yang menentukan jenis pemanfaatannya. Seperti biji dari tanaman ganja dapat dimanfaatkan minyaknya dengan hasil ikutan berupa bungkil biji ganja untuk tepung pakan ternak.
Perbedaan varietas Cannabis sativa dideterminasi pada morfologi tanaman dan kandungan cannabinoid (THC dan CBD). Pada varietas sativa, tanamannya relatif tinggi dengan cabang banyak serta mempunyai anak daun (leaflet) yang rapat. Rasio CBD/THC pada varietas sativa relatif tinggi, sehingga biasa digunakan sebagai obat-obatan. Varietas spontanea atau ruderalis mempunyai tinggi tanaman yang lebih pendek dan tidak banyak bercabang serta berbunga lambat. Kandungan rasio CBD/THC dari varietas ruderalis relatif rendah, sehingga tanaman ganja varietas ini jarang digunakan sebagai sumber obat-obatan. Teknologi silang pada kedua varietas sativa dan ruderalis menghasilkan varietas baru yang mempunyai sifat pada kedua verietas gabungannya. Silangan tersebut mempunyai rasio CBD/THC yang tinggi serta penyebaran tumbuh tanam yang lebih luas, sehingga produtivitas per satuan luas lahan juga tinggi. Penyeberan tumbuh tanam yang luas tersebut disebabkan oleh sifatnya yang mempunyai bunga yang banyak dan mudah terbang sehingga menyebarkan bibit tanam ke segala arah dalam waktu cepat.
Sub spesies selain sativa yaitu Cannabis sativa indica menyebar luas di wilayah India, Afganistan dan Pakistan yang biasa digunakan untuk produksi hashis. Morfologi tanaman sub spesies ini relatif pendek dengan cabang yang rapat serta anak daun yang lebih lebar. Disamping itu kandungan seratnya mempunyai kulaitas yang rendah. Rasio CBD/THC juga relatif rendah.









          



Gambar 3. bagian-bagain tanaman ganja (Cannabis sativa L)






Gambar 4. Bagian biji dan daun tanaman ganja (Cannabis sativa L)

      Sesuai dengan nama, maka tanaman Hemp (ganja) banyak difokuskan pada adanya kandungan senyawa kimia yang disebut dengan cannabinoid. Senyawa cannabinoid merupakan kelompok dari senyawa terpenofenolik yang secara struktur berhubungan dengan THC (tetrahydrocannabinol) yang mengikat reseptor cannabinoid. Definisi kimia senyawa ini lebih luas dibagi menjadi dua tipe yaitu kelas canabinoid klasik (THC) dan kelas cannabinoid non klasik (endocanabinoid : aminoalkilindoles dan eicosannoid)
Reseptor cannabinoid ditemukan tahun 1980 yang menjelaskan asumsi perdebatan sebelumnya tentang efek canabinoid pada efek psikologis dan tigkah laku melalui interaksi nonspesifik dengan membran sel. Reseptor ini mempunyai dua tipe yaitu CB1 dan CB2. reseptor CB 1 banyak terdapat di jaringan otak terutama pada basal ganglia dan sistem limbik termasuk hippocampus. CB1 juga ditemukan pada organ reproduksi jantan dan betina. Tetapi CB1 tidak pernah ada pada bagian medulla oblongata.
Reseptor CB2 hampir semua ditemukan pada sistem kekebalan, dengan densitas yang tinggi pada limpa. Reseptor CB2 ini mampu berespon terhadap anti-inflammatory dan memungkinkan untuk efek terapik lainnya. Beberapa jenis Cannabinoid yang sering ditemukan dalam jumlah besar adalah :
- THC : tetrahidro cannabinol
- CBD : cannabidiol
- CBN : Cannabinol
- CBG : cannabigerol
- CBG : Cannabichromene
- CBL : Cannabycyclol
- CBV : cannabivarin
- Dan lainnya.
THC merupakan senyawa canabinoid utama sebagai komponen psikoaktif dalam tanaman. Mempunyai rataan daya ikat pada CB1 dan CB2. senyawa CBD tidak bersifat psikoaktif mempunyai daya ikat lebih kuat pada CB2 dibandingkan dengan CB1.
Endogenous Cannabinoid secara alami dihasilkan dalam tubuh hewan. Penelitian-penelitian menghasilkan penemuan senyawa endogenous tersebut teridentifikasi sebagai arachidonoyl etahnolamide dan anandamide. Anamide merupakan turunan dari asam lemak esensial rachidonat. Jenis canabinoid ini berikatan dengan reseptor CB1 dan CB2.
PENGARUH KONSUMSI  CANNABIS SATIVA L
       Ameri (1999) menjelaskan efek senaya cannabinoid pada otak, senyawa yang umum mempunyai efek pada otak adalah delta 9-tetrahydrocannabinol (delta9-THC) pada manusia canabinoid psikoaktif menghasilkan euporia peningkatan sensor persepsi, tachycardia, antinociception serta kesulitan konsentrasi dan perbaikan memori. 




                                                     
                                                                            
    Gambar 5. Otak, non adiksi.                                       Gambar 6. Otak Adiksi

1.   THC dan CB 1, 2.
       Bahan aktif dikenal sebagai ‘9-tetrahydrocannabinol’, yang memberikan semua efek pada pusat otak melalui reseptor CB1 cannabinoid.  Penelitian tentang mekanisme cannabinoid telah difasilitasi oleh ketersediaan antagonis selektif yang bekerja pada reseptor CB1 dan generasinya pada reseptor CB1 tikus. Terutama pada neuron yang mengekspresikan tingkat reseptor CB1 yang tinggi pada interneuron GABAergic hipokampus, amigdala dan korteks serebral, yang juga berisi neuropeptida-cholecystokinin. Aktivasi reseptor CB1 menyebabkan penghambatan pelepasan asam amino dan neurotransmitter monoamina. Turunan lipid anandamide dan aktivasi 2-arachidonylglycerol sebagai ligan endogen untuk reseptor CB1 (endocannabinoids). Mereka dapat bertindak sebagai mediator sinaptik retrograde dari fenomena depolarisasi akibat dari inhibisi atau eksitasi dalam efek hipokampus dan cerebellum. 




2.   PERAN MEDISINAL.
       Efek cannabinoids pada CNS termasuk gangguan perilaku psikomotor, gangguan memori jangka pendek, mabuk, perangsangan nafsu makan (obes), tindakan antinociceptive (terutama terhadap nyeri asal neuropatik) dan efek anti-emetik.

















Gambar 7. Sinyal dari rangsang reseptor CB1 presinapsis

       Sebagian besar retrograd-messengers disimpan dalam vesikel presinaps dan dirilis melalui exocytosis. Sebaliknya, endocannabinoids disintesis atas permintaan dari prekursor fosfolipid mereka yang ada di membran sel (Di Marzo et al, 1998). 
Pelepasan endocannabinoids tidak memerlukan cara khusus, seperti pada vesikel, selain biosintetik enzim, dan dapat terjadi secara keseluruhan pada permukaan membran sinaps menyusul stimulasi yang sesuai.  



           














Gambar 8. Retrogade sinyal inhibisi Cannabinoid

     Dosis cannabinoid sangat berperan,  karena dengan  batas aman (margin of safety;MOS) yang luas  sampai dengan 600 mg/kg berat badan (LD50 : 730 mg/kg -- 1270 mg/kg,)
baru dianggap toxik atau mematikan pada hewan penelitian tikus. Maka pada riset lain menyebutkan dosis cannabinoid yang rendah terukur 50-75 mg/kg berat badan akan dihubungkan dengan ekspresi LDL (low density lipoprotein) dan uncoupling protein (UCP) untuk melihat pengaruh cannabinoid pada pembuluh darah apakah memberikan hasil yang berguna dalam jangka waktu penggunaan (Merck Index, 12th Ed). Diduga juga pengaruh sensitive cannabinoid pada jaringan adipose putih pada peritnium (WAT; white adipose tissue) adalah panas badan, status makan dan cadangan energi tubuh, yang berpusat pada area ventromedial nucleus hipotalamus (VMN) hindbrain. Telah diketahui bila terjadi peningkatan pembakaran cadangan makanan dalam tubuh, maka akan meningkatkan panas tubuh yang kemudian memberikan signal simpatis pada reseptor adrenergic nervus sistem jaringan sel adipos (Cannon B et al. 2006). Signal intrasel ini akan merangsang cAMP dan protein kinase A (PKA), dan selanjutnya akan melepaskan trigliseride fatty acid (FAA); kedua pelepasan ini diatur oleh aktivitas pelepasan protein (UCP) mitochondria  sebagai subtrat termogenesis tubuh. 
      















                      Gambar 9. Reseptor CB1 banyak daerah  otak. tertentu 
         Reseptor CB1 berlimpah terutama dihippocampus, otak kecil, dan korteks serebral (warna merah).  Dalam jumlah sedang diganglia basal dan inti
accumbens (warna hitam). Reseptor CB1 yang cukup juga di hypothalamus, amygdala, sumsum tulang belakang, batang otak, subtansi gricea, dan inti dari tractus soliter.
Sistem endocannabinoid adalah neuromodulatory yang memainkan peran dalam proses fisiologis, termasuk pengaturan asupan makanan dan homeostasis energi (Di Marzo dan Matias, 2005). Reseptor CB1 didalam sistem saraf pusat dan pada berbagai lokasi dan merupakan target cannabinoids endogen seperti anandamide (Cross-Mellor et al, 2007). Dalam otak CB1 ditemukan di basal ganglia, sistem limbik, dan daerah lainnya yang memediasi respon stres. Sistem limbik juga memiliki banyak keterkaitan dengan nucleus accumbens, yang disebut pusat kesenangan otak sehingga dapat dibayangkan bahwa reseptor ini berperan dalam memodulasi respons emosional.
Ketika gangguan mengobati obesitas dengan blocker reseptor CB1, pengolahan normal pada sistem limbik harus diantisipasi karena bisa mengakibatkan gangguan kejiwaan yang merugikan termasuk perasaan depresi dan kecemasan (Van Gaal et al, 2005). Hill dan Gorzalka (2006) menunjukkan bahwa blokade farmakologi reseptor CB1 dapat menyebabkan keadaan mirip dengan depresi melankolis. Terutama dengan pengecualian pasien dari percobaan dengan depresi ringan atau bahkan sedikit peningkatan tingkat depresi tidak jelas apakah rimonabant dan lain antagonis reseptor CB1 akan cocok untuk pasien obesitas dengan hidup bersama depresi (Gadde dan Allison).
Strategi lain farmakologis dalam pengobatan obesitas bisa dengan penargetan bagian yang berbeda dari sistem endocannabinoid dan bagaimana mengurangi efeknya terhadap asupan makanan. Hal ini bisa mengurangi efek tingkat cannabinoids endogen seperti anandamide (Di Marzo et al, 2005). Dosis aman extrak blocker CB1 yang aman 15-30 mg per hari. (short-term use only -- < 12 weeks; 18.75 to 37.5 mg once daily or in divided doses), menggunakan  Rimonabant (blocker CB1), dosis yang digunakan 5-20 mg/hari dalam 12 mg, terjadi penurunan berat badan 6-7 kg. (Pi-Sunyer, F. X. et al. 2006).
        Sistem endocannabinoid memainkan peran penting dalam kontrol mual dan emesis (Cross et al (2007). Banyak riset dengan  anti-obesitas telah melaporkan mual sebagai efek samping dan merupakan penyebab signifikan. Darmani pada tahun 2001 menunjukkan bahwa antagonis reseptor CB1 dapat menyebabkan muntah pada hewan. 
PENUTUP
         Reseptor antagonis cannabinoid (CB1) meningkatkan perubahan berat badan dan mencegah kelainan metabolik obesitas terkait. Untuk menentukan peran apakah obat2an yang mengandung blocker CB1 dapat mengurangi perkembangan aterosklerosis koroner dapat diukur dengan IVUS (Intravascular ultrasound) pada pasien CAD (Coronary Artery Disease) obes-abdominally (visceral, mesenteric and omental) dan retroperitoneal (perirenal and perigonadic). Strategi pengembangan pengobatan yang efektif yang baik dan  bertahan lama untuk pengelolaan obesitas telah terbukti merupakan tantangan yang sulit, khususnya pada
pendekatan baru yang saat ini sangat diperlukan untuk mengurangi beban dari epidemi global dan konsekuensi metabolic pada obes. Kami percaya blocker CB1 (Cannabinoid) sangat menjanjikan dan menunjukkan hal-hal yang lebih luas lagi disamping stress dan obes berpeluang dan bermanafaat untuk pengobatan yang mengakibatkan penyakit aterosklerosis pada pasien dengan obesitas abdominal.

BAHAN BACAAN.
Ameri. A. The effect of cannabinoids on the Brain. Article. Ww.biopsychiatry.com/cannabinoids.htm
Anonymous. Marijuan Cannabinoids(THC, CBD, CBN). Article. www.alb2c3.com/drugs/mj028.htm.
Anonymous. Cannabioids. Articel. Wikipedia. www.en.wikipiedia.org/wiki/cannabinoids
Anonymous. Detection of cannabinoids in urine. Toxicology Laboratories. Health world online. www.healthy.net/scr/article.asp?id=8085
Christensen, R., P. K. Kristensen, et al. (2007). "Efficacy and safety of the weight-loss drug rimonabant: a meta-analysis of randomised trials." Lancet 370(9600): 1706-13.
Cohen, C., G. Perrault, et al. (2002). "SR141716, a central cannabinoid (CB(1)) receptor antagonist, blocks the motivational and dopamine-releasing effects of nicotine in rats." Behav Pharmacol 13(5-6): 451-63.
Cossu, G., C. Ledent, et al. (2001). "Cannabinoid CB1 receptor knockout mice fail to self-administer morphine but not other drugs of abuse." Behav Brain Res 118(1): 61-5.
Lachenmeier, D.W., S.G. Walch. Analysis and Toxicological evaluation of cannabinoids in hemp food products a riview. Electron J of Environ.agric.food chem. 4(1).2005 [812-826]
Molkkea, H., H. Husman. Cannabinoids in Seeds extracts of Cannabis sativa Cultivars. Article.

No comments:

Post a Comment